Pria dan Wanita Sejati

December 21, 2008

Tentang Wanita Sejati

Wanita Sejati…
Bukan dilihat dari kecantikan parasnya…
Tetapi dari kecantikan hati yang ada dibaliknya…

Wanita Sejati…
Bukan dilihat dari bentuk tubuh yang mempesona…
Tetapi dari sejauh mana dia berhasil menutup tubuhnya…

Wanita Sejati…
Bukan dilihat dari begitu banyaknya dia melakukan kebaikan…
Tetapi dari keikhlasannya memberikan kebaikan itu…

Wanita Sejati…
Bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya…
Tetapi dari apa yang sering mulutnya bicarakan…

Wanita Sejati…
Bukan dilihat dari keahliannya berbicara…
Tetapi dari bagaimana caranya berbicara….

Wanita Sejati…
Bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian…
Tetapi dari sejauh mana dia mempertahankan kehormatannya…

Wanita Sejati…
Bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang dijalan…
Tetapi dari kekhawatiran dirinya yang membuat orang tergoda…

Wanita Sejati…
Bukan dilihat dari seberapa banyak dan besar ujian yang dijalani…
Tetapi dari sejauh mana dia menghadapi ujian dengan kesabaran…

Wanita Sejati…
Bukan dilihat dari sifat supelnya bergaul…
Tetapi dari sejauh mana dia menjaga kehormatannya dalam bergaul…

—————————————————————————————
—————————————————————————————

Tentang Pria Sejati

Pria sejati bukanlah dilihat dari badannya yang kekar,
tetapi dari kasih sayangnya pada orang lain di sekitarnya.

Pria sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya,
tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.

Pria sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempat kerja,
tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.

Pria sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan,
tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.

Pria sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang,
tetapi dari hati yang berada di baliknya itu.

Pria sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja,
tetapi dilihat dari komitmennya terhadap wanita yang dicintainya.

Pria sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan,
tetapi dari tabahnya ia menjalani liku-liku kehidupan.

Pria sejati bukanlah dilihat dari kerasnya ia membaca Al Qur’aan
tetapi dari istiqomahnya dalam melaksanakan apa yang ia baca.

dari terjemahan bebas: Deshinta Arrova Dewi, MaPi no I th. III Jan 2000

Suami & Istri

December 20, 2008
Sumber: unknown
Katanya Based on True Story..
Bagus banget ceritanya. Mungkin bisa dijadiin contoh untuk orang-orang yang membuat si “ex” sakit hati.. hehe..
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka Dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” .

dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi ,kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan merawat ibu bergantian”.

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.” Anak2ku Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin bapak akan menikah, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah Melahirkan kalian”.. sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya
sekarang”. kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit. Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu  suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber diacara islami Selepas shubuh dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno bercerita”.

Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena Allah semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Allah..dan itu merupakan ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita kepada Allah

Diatas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya

Foto-Foto di Ancol

November 12, 2008

Foto-foto di bawah ini adalah beberapa foto yang berhubungan dengan postingan saya sebelumnya, “Police Academy dan Ice World (liburan ke Ancol)”.

Berikut adalah beberapa foto mengenai Police Academy:

06072008499-small

060720085011

06072008502

06072008504

06072008505

Lalu, yg di Ice World:

060720085061

Yah, hanya beberapa foto ini lah yang tersimpan di ponsel saya. Foto-foto yang lain tersimpan di camera digital yang ada di rumah di Jakarta. Kalau mau berkomentar tentang keindahan foto-foto ini, sok aja atuh. Jangan malu-malu. Hehe…😀

8 Macam Kado Terindah dan Tak Ternilai

November 11, 2008

8 macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi yang tidak perlu Anda beli …..

01. KEHADIRAN.

Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.

02. MENDENGAR.

Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang Lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasih pun akan terdengar manis baginya.


03. DIAM.

Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.


04. KEBEBASAN.

Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, ” Kau bebas berbuat semaumu.” Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.


05. KEINDAHAN.

Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari ! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.


06. TANGGAPAN POSITIF.

Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat,berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf ), adalah kado cinta yang sering terlupakan.


07. KESEDIAAN MENGALAH.

Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai Menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado ” kesediaan mengalah” Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.


08. SENYUMAN.

Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi ?

Disadur dari milis alumni salah satu SMA di Jakarta.

Niat Baik yang Di-hiperbola-kan

November 11, 2008

Entah kenapa, niat kita atau tujuan dari perbuatan yang kita maksud itu selalu ditanggap berbeda oleh orang lain. Kadang kala niat kita dianggap negatif oleh sebagian orang, tapi bisa juga dianggap terlalu positif oleh sebagian orang. Hal yang ingin saya bahas disini (walau hanya pembahasan singkat) adalah niat baik kita yang terlalu dilebih-lebihkan oleh sebagian orang.

Kalau boleh dimulai dengan sejarah singkat penulis tentang hal yang akan dibahas di sini, saya akan memulainya dengan masa yang terindah dalam hidup (seperti kebanyakan orang bilang), yakni masa SMA. Sewaktu saya kelas 1 SMA di Palembang, saya mengikuti proses kaderisasi suatu organisasi di sekolah saya itu. Saya ikut proses kaderisasi Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Saya mengikuti proses pengkaderan itu dengan baik sampai diterima menjadi anggota di akhir kelas 1. Akan tetapi, saya tidak pernah merasa ikut berorganisasi di KIR karena saya pindah ke Jakarta bersama keluarga pada saat kenaikan kelas 2.

Sedangkan masa-masa SMA saya di Jakarta lebih dipenuhi dengan kegiatan akademik. Saya yang diwanti-wanti untuk serius belajar di tahun pertama di Jakarta karena mungkin “kelas” Jakarta berbeda dengan “kelas” di Palembang, tentu saja menuruti apa kata orang-orang yang paling kusayang itu. Saya jadi sangat amat rajin belajar hingga bisa menjadi salah satu juara kelas paralel di akhir tahun pertama di jakarta. Kegiatan lain yang saya ikutin selain akademik adalah mengikuti kejuaraan sepakbola di sekolah yang saya menjadi pemain inti di kelas, walaupun di posisi yang agak saya tidak sukai, pemain belakang. Walaupun saya berada di posisi yang tidak disukai, namun saya cukup berhasil membantu kelas saya untuk menjadi Runner-Up di kejuaraan tersebut. Senangnya…😀

Di kelas 3, saya masih cukup disibukkan dengan kegiatan akademik di kelas ditambah mengikuti bimbel sampai malam. Walaupun saya agak sering jalan-jalan dengan teman-teman yang saya agak kenal dekat, tapi tetap saja akademik is the number one pada saat itu.

Nah, mari kita kembali ke topik. Saya yang baru merasakan suasana organisasi yang begitu “berwarna” di bangku kuliah, masih memiliki semangat berapi-api untuk terus aktif di organisasi yang saya selami. Baru-baru ini, mungkin lebih tepatnya beberapa minggu yang lalu, ada acara di organisasi yang cukup menarik perhatian. Saya cukup tertarik dengan acara itu karena selain saya pernah menjadi ketua panitia acara yang sama tahun lalu, juga bakal ada acara yang sama tapi dalam skala nasional tahun depan. Acara tersebut adalah pemilihan ketua organisasi (pemilu).

Pada pemilu tahun lalu, saya merasa ada tujuan dari pemilu yang belum tersampaikan kepada segenap saudara-saudara di organisasi tersebut. Oleh karena saya ingin sedikit bertanggungjawab atas peran saya setahun lalu itu, saya sedikit “membantu” panitia tahun ini. Oiya, tujuan dari pemilu tahun lalu yang mungkin belum tercapai adalah mencerdaskan sebagian besar massa organisasi tersebut mengenai politik. Bentuk bantuan yang saya berikan adalah mengajak sebanyak-banyaknya massa organisasi untuk mengikuti hearing calon ketua organisasi. Bentuk ajakan itu berupa sms ke sekian ratus massa organisasi (yang tidak hanya satu sms per orang) dan juga ajakan mulut ke mulut.

Hal yang jadi permasalahan adalah niat yang baik itu di-hiperbola-kan oleh beberapa teman seangkatan saya. Saya dikira melakukan kampanye ke angkatan saya sendiri untuk mendapatkan suatu jabatan di organisasi tersebut. Padahal saya tidak memikirkan hal tersebut sampai teman saya langsung membicarakan itu ke saya. Bisa diibaratkan, jalan lurus yang awalnya ingin ditempuh menjadi bercabang-cabang ke sekian gang-gang kecil yang tujuannya tidaklah jelas. Hal ini terjadi karena kita meng-hiperbola-kan suatu niat baik seseorang.

Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan bangsa ini untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih dramatis, atau di-hiperbola-kan. Contoh dari pendramatisiran yang terjadi baru-baru ini adalah kasus seorang tokoh dan pengusaha kaya raya di Semarang, Syekh Puji. Sebenarnya, hal yang beliau lakukan sesuai dengan syariat Islam. KSKS*. Bukannya saya menyetujui tindakan yang beliau lakukan, tetapi, dalam kenyataannya, di pelosok-pelosok negeri ini, khususnya di desa-desa terpencil, masih banyak orang-orang yang disebut anak-anak menikah pada umur belasan tahun. KSKS* lagi.

Apakah mendramatisir / meng-hiperbola-kan segala sesuatu boleh dilakukan..?? Saya sendiri tidak cukup mempunyai ilmu untuk menjawabnya, tapi mungkin Anda yang membaca tahu. Kalo Anda tahu, sok atuh dikomentarin tulisan saya yang ntah vava ini. ^_^

*KSKS = Koreksi Saya Kalau Salah

Ibu Kita Adalah Orang yang Paling Mulia

October 29, 2008

Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari
keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut.
Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba
kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah
yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah, dengan
membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua
sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang
terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb
bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen
dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang
belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang
anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya agar
menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal membujuk
anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut
mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk
meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun
ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang pria.
Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan
dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan
sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut
dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria… Mereka kemudian memohon
pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.

Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,
reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.
Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut
secara perlahan2.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar
wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan
menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai
hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan
bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini,
tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan
uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat
sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk
surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang
pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. ‘Walaupun ia kelak
bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua’, kata sang ibu.

Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah
memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya
hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji
setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam menghadapi
penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi
menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.

Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak
antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu,
sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

==========000000000 0======== ======

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi seorang
ibu. Anaknya seorang laki2… Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk
membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah
industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan menyulam
sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan
ini sambil menggendong anak di punggungnya.

Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak
memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi
sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. ..

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya
sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus
menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah
menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan
itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada
siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup
ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi
sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang
sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak
mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan
belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk
mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak permintaannya,
untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada
di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur
dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari
pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat
mulutnya dengan sepotong kain…. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang
mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak
mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang
ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.
Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang
sedang dilakukan oleh sang ibu ………… . .

==========000000000 0======== ======

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak yang tampan,
cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya… Di hari minggu,
mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain
bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu ‘Shi Sang Chi You Mama Hau’
(terjemahannya ‘Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik’).

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.

Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam
hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan
biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat
membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.
Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah
pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu
mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain
yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia
meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia
akan membelinya bulan depan. ‘Apakah kamu punya uang?’
tanya sang pemilik toko. ‘Tidak sekarang, nanti saya akan punya’, kata sang
anak dengan serius.

Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb.
Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.

Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya ‘Dari mana kamu mendapatkan
uang itu? Bukan mencuri kan ?’. ‘Saya tidak mencuri, kakek….

Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang
pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari
sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam
ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku
tentang hal ini. Ia akan marah’ kata sang anak. Sang pemilik toko tampak
kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak segera
memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tsb. Sang
ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam
tangan ini memang adalah impiannya.. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari
mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau menjawab.

‘Apakah kamu mencuri, Nak?’ Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin
ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.

Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya
telah mencuri. ‘Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah
ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?’ kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada
anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,
sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu
perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus
melakukannya, demi kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah
tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. ‘Ia
sebenarnya anak yang baik’, kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
tetangganya yang merupakan familinya.

Ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika
mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan.
Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon
agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

‘Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya’. Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.
Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak
tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam
tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang
tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke
rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan
uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tsb,
begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya,
keduanya menangis dengan tersedu-sedu. ‘Maafkan saya, Nak.’

‘Tidak Bu, saya yang bersalah’… ……… .. ..

===========000= ========= =======

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya
mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini,
karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.

Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan,
mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari
bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya
sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung
semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan
baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin
melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

===========000= ========= ========

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter mengatakan
bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau
kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya
medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.

Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang
tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah,
karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.

Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya berkeliling
kota , bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan
lagu ‘Shi Sang Chi You Mama Hau’, lagu kesayangan
mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut
dalam kegembiraan bersama sang anak.

Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang anak
menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.
‘Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak’ kata
ibu. ‘Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
lagi, Bu’, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang
ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang
melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak meronta2
ingin ikut pulang dengan ibunya.. Walaupun diberikan
mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama
ibunya, sang anak menolak. ‘Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu’,
teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis,
sang ibu berkata ‘Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini.
Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.’ ‘Tidak, aku tidak mau
mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya?
Ibu sekarang tidak mau saya lagi’, sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak
didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 ‘Kalau ibu sayang
padaku, bawalah saya pergi, Bu’. Sampai pada akhirnya, ibunya
memaksa dengan mengatakan ‘Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah
disini’, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya
meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk
anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia
telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.

Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat
nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak
akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk
mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri
itu dibatalkan, demi anaknya juga…….. .. ..

============ 000====== ===

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja
yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap menjalani
perawatan medis secara rutin setiap bulan.

Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.

Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah
mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak
pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya,
yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai
bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah
kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia
akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya.
Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong.
Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu
kemana ibunya pergi.. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di
depan rumah tsb, menangis ‘Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.’

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.

Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini
adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya
mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil
menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,
setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang
ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya
dalam surat itu..

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah
pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila
kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih.
Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.

Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk memohon
agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan, demamnya
tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke
rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan
berguling2 jatuh ke bawah……. … …

============ 000====== ========

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku kuliah.
Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh
dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak
telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi
hasilnya nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama
pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil
mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah
‘Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?’

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu ‘Shi Sang Ci You Mama Hau’ dengan suara perlahan, tak
disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka
berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua
itu dan berteriak dengan haru ‘Ibu? Ini saya ibu’.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,
‘Apakah kamu ??..(nama anak itu)?’ ‘Benar bu, saya adalah anak ibu?’.

Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi
bumi ………… … .

Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang
ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya,
tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai
orang gila.

============ ========000= ========= ========= ========

Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:

Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu
bahkan rela mengorbankan nyawanya..
Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,
ataupun disaat Ibu sudah tua :

1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah aku
sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda,
diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara
apapun ………..

Tidak diragukan lagi ‘Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini’

Mom, my beloved. I love you Mom forever………in my deep heart…. I always
missing you Mom……..

Disadur dari suatu milis alumni SMA di Jakarta.

Police Academy dan Ice World (liburan ke Ancol)

July 7, 2008

Hari minggu kemarin (6 Juni ’08), kami berdelapan berlibur ke ancol. Delapan orang disini adalah saya (nama: R. Joko Prasetyo Utama, tapi dipanggil tommy) abang saya (R. Joko juga namanya), adek saya (R. Joko juga namanya, tapi panggilannya adit), ibu tercinta, bu Bi’ah, beserta dua anaknya, Lisa dan Dwi, serta sepupu saya, Kemal.. Mereka berempat (bu Bi’ah, LIsa, Dwi , dan Kemal) baru tiba dari pulau lombok hari sabtu.. Yah, bisa dibilang kalo mereka berempat gak datang, saya tidak akan menikmati liburan saya ke ancol ini..🙂

Kami pergi ke ancol dengan menggunakan mobil panther keluarga yang dikendarai oleh abang saya. Kami tiba di ancol sekitar jam 11, dan sampai di tempat Police Academy Stuntman show (di pantai carnaval kalo nggak salah tempatnya) sekitar jam 12. Jam 11 sampe di ancol, n jam 12 baru sampe di pantai carnaval?? Yah, emang itulah yg terjadi di dalam kawasan ancol pada hari minggu plus waktu liburan untuk anak sekolah… Maaaceeeeett..!! Mungkin kalo di jalan2 di kota, bakal ada beberapa polisi yang mengatur lalu linas di jalan2 yang rawan macet, tapi kemarin, di dalam kawasan ancol, tidak ada yg mengatur lalu lintasnya. Saya melihat orang-orang di sekitar mobil kami (khususnya pengendara) banyak yg tidak sabaran dan tidak mau mengalah. (apa abang saya juga gak mau ngalah ya? hehe..) Yah tapi itu mungkin karena salah satu akibat dari panasnya ancol saat itu, 46 derajat celcius… (ada yg tau temperatur tertinggi kota jakarta sampai saat ini?)

Setelah sampai di pantai carnaval, kami langsung memesan tiket dan melakukan reservasi untuk pertunjukan pukul 14.00. Oiya, kami mendapat diskon 30% lho, hehe.. Lalu, kami mencari makan untuk perut kami yang sudah nggak karuan. Kami makan di tempat terpisah. Para cowok (saya, abang, adek, n kemal) memilih untuk makan sate ayam.. Sementara, para perempuan makan di suatu tempat yang tidak bisa dilihat para cowok (makan apa ya mereka??). Yah, sate nya lumayan enak lah walaupun dimakan di tengah teriknya matahari..

Setelah perut kami terisi, kami semua menuju mushola untuk menunaikan kewajiban solat dzuhur. Ternyata, mushola yang disediakan (satu2nya tempat solat di tempat itu saya pikir) hanya bisa menampung sedikit orang, yakni tepatnya tidak lebih dari 10 orang, dan tidak ada batasan/hijab antara laki2 dan perempuan.. Tapi, saya pikir saya harusnya bersyukur telah diberi kesempatan untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim..

Kemudian,, kami memutuskan untuk mengantri di depan pintu masuk walaupun pertunjukannya masih akan dimulai sekitar satu jam lebih lagi. Pada saat kami mengantri dan menunggu untuk dibukanya pintu masuk, ada suatu kenanehan. Kami yang membeli tiket bisnis mengantri di bawah tenda yang disediakan, sedangkan orang2 yg membeli tiket vip justru mengantri di bawah terik matahari. Aneh kan?? Masa orang yang bayarnya lebih dan untuk mendapatkan kenyamanan yg lebih justru dibuat tidak nyaman dengan mengantri sambil berpanas-panasan di bawah terik matahari… Tapi para pembeli tiket vip dipersilahkan untuk masuk lebih awal. Kami pun masuk setelah para pembeli tiket vip tidak ada yang mengantri lagi.

Oke,, sekarang kita memasuki acara utama kita (apaan sih..) Pertunjukkan Police Academy Stuntman Show ini sangat menarik dan layak diancungi jempol, meski ada beberapa hal yang kurang berkenan di hati😉 Tapi buat orang2 yg belum menonton, dipersilakan untuk melihatnya sendiri (bukan bermaksud untuk promosi lho..)

Setelah puas menyaksikan kerennya pertunjukan Police Academy yang berdurasi kurang lebih 45 menit, kami langsung menuju Ice World. Coba deh bayangin, dari tempat yang panas banget langsung ke tempat yang dingin banget. Di Ice World ini, kami sempat mengambil gambar kenang2an kami di tempat yang super dingin itu.

Sesudah itu, kami kembali terjebak macet di dalam kawasan ancol. Bayangkan, kami berada di mobil selama 2 jam (kalo nggak salah ya)

Pada akhirnya, kami tiba di rumah (dengan kelegaan yg amat sangat) sekitar jam 20.30.

Yah demikianlah cerita liburan saya beserta keluarga ke Ancol. Maafkan jika terdapat kata2 yang kurang berkenan. Maklum, baru buat blog sih..🙂

Halo semuanya…

July 7, 2008

Wah, akhirnya punya blog juga nih.. Setelah diberi saran oleh teman kos, kuliah, kerja (kp/pkl sih), yakni dhzcorner, utk nge buat blog,, blog ini terbuat juga..

hmm,, untuk yg pertama ini segini aja dulu deh nulisnya.. Nantikan tulisan2 saya selanjutnya yg mungkin bakal menarik, ngebosenin, lucu, menggugah hati, membuka wawasan, dll, dsb, dst, walaupun mungkin nanti bakal hanya biasa2 aja tulisannya..🙂

Hello world!

July 7, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!